semdinlihaber – Bayangkan percakapan keluarga yang mungkin sudah sangat familiar.
“Umur segini kok belum kepikiran beli rumah?”
Lalu seseorang tersenyum.
Bukan karena pertanyaannya lucu.
Tetapi karena menjelaskan jawabannya akan terlalu panjang.
Bagaimana menjelaskan bahwa uang muka rumah bisa setara tabungan bertahun-tahun? Bagaimana menjelaskan bahwa gaji naik, tetapi kebutuhan hidup juga ikut naik? Bagaimana menjelaskan bahwa rumah yang dulu dianggap “pinggiran kota” sekarang sudah mempunyai harga yang membuat rekening ikut berpikir dua kali?
Akhirnya jawaban paling aman keluar.
“Iya, nanti.”
Masalahnya, kata “nanti” mulai terasa semakin mahal.
Hari ini banyak anggota Gen Z sulit punya properti, atau setidaknya merasa kepemilikan rumah berada jauh lebih belakang dibandingkan target generasi sebelumnya.
Namun kemudian muncul pertanyaan yang agak mengganggu.
Kalau generasi yang sekarang sudah memasuki usia kerja saja merasa membeli rumah semakin berat, bagaimana nasib Gen Alpha nanti?
Anak-anak yang hari ini masih sekolah dasar, SMP, atau bahkan baru belajar membaca suatu hari akan tumbuh dewasa.
Mereka juga akan membutuhkan tempat tinggal.
Mereka juga mungkin ingin menikah.
Mereka mungkin ingin memiliki rumah sendiri.
Dan kalau pola harga tanah, urbanisasi, biaya konstruksi, serta pertumbuhan pendapatan bergerak seperti sekarang, pertanyaan mengenai rumah bisa menjadi jauh lebih rumit.
Tentu tidak ada yang bisa mengetahui secara pasti harga rumah pada 2040 atau 2050.
Tetapi kita sudah bisa melihat arah masalahnya hari ini.
Gen Z Bukan Tidak Mau Beli Rumah
Ada stereotip yang kadang terdengar sederhana.
Generasi muda dianggap terlalu sering nongkrong.
Terlalu banyak membeli kopi.
Terlalu sering traveling.
Terlalu menikmati hidup.
Kemudian ketika tidak punya rumah, kesimpulannya juga sederhana.
“Ya salah sendiri.”
Sayangnya, harga rumah tidak bisa dijelaskan dengan jumlah latte yang diminum setiap bulan.
Bahkan jika seseorang berhenti membeli kopi Rp30 ribu setiap hari selama satu tahun penuh, uang yang terkumpul sekitar Rp10,95 juta.
Lumayan.
Tetapi belum tentu cukup untuk menutup kenaikan harga atau uang muka sebuah rumah di banyak kawasan perkotaan.
Masalah kepemilikan properti jauh lebih struktural.
Ada harga tanah.
Ada harga bangunan.
Ada lokasi pekerjaan.
Ada gaji.
Ada suku bunga.
Ada uang muka.
Ada kebutuhan hidup sehari-hari.
Ada keluarga yang harus dibantu.
Dan ada fakta sederhana bahwa seseorang harus tetap hidup selama proses menabung membeli rumah.
Angka Backlog Menunjukkan Masalah Rumah Memang Nyata
Persoalan perumahan Indonesia bukan hanya keluhan di media sosial.
Badan Pusat Statistik pada 2026 mencatat sekitar 12,39% rumah tangga Indonesia belum memiliki rumah sendiri dan juga tidak memiliki rumah di tempat lain.
Dalam jumlah absolut, angkanya sekitar 9,29 juta rumah tangga. Angka tersebut memang membaik dibandingkan sekitar 9,64 juta rumah tangga pada 2025, tetapi skalanya tetap sangat besar.
Jakarta memperlihatkan situasi yang jauh lebih ekstrem.
BPS mencatat persentase backlog kepemilikan rumah di DKI Jakarta pada 2026 mencapai 39,36%.
Artinya, persoalan memiliki rumah jauh lebih berat di pusat ekonomi dengan harga tanah tinggi.
Jadi ketika anak muda di kota besar mengatakan rumah terasa semakin sulit dijangkau, keluhan itu tidak muncul dari ruang kosong.
Kota tempat pekerjaan paling banyak terkonsentrasi justru sering menjadi tempat rumah paling mahal.
Dan di sinilah dilema generasi muda dimulai.
Untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik, mereka pindah ke kota.
Setelah bekerja di kota, harga rumah di kota tersebut justru terlalu tinggi.
Rumah Naiknya Sedikit, Kok Tetap Terasa Mahal?
Ini bagian yang menarik.
Kalau hanya melihat data terbaru Bank Indonesia, harga properti residensial primer sebenarnya tidak sedang melonjak liar.
Pada triwulan II 2026, Indeks Harga Properti Residensial tumbuh 0,69% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi daripada 0,62% pada triwulan I 2026.
Lalu kenapa rumah tetap terasa mahal?
Karena persoalannya bukan hanya kecepatan kenaikan.
Ada level harga awal.
Rumah yang sudah Rp1 miliar tidak perlu naik 20% agar terasa mahal.
Naik 1% saja berarti Rp10 juta.
Sementara bagi seseorang yang hanya mampu menabung Rp2 juta per bulan, Rp10 juta setara dengan lima bulan tabungan.
Itu baru kenaikannya.
Harga pokok rumahnya masih Rp1 miliar.
Jadi pertanyaan affordability jauh lebih penting dibandingkan sekadar bertanya apakah harga rumah sedang naik cepat atau lambat.
Gen Z Sedang Bertanding dengan Harga Aset
Bayangkan ada dua garis.
Garis pertama adalah harga properti.
Garis kedua adalah kemampuan finansial seseorang.
Selama garis kemampuan finansial tumbuh lebih cepat daripada harga rumah, masalahnya relatif terkendali.
Tetapi kalau harga aset bergerak lebih cepat daripada kemampuan menabung dan pertumbuhan pendapatan, jaraknya semakin jauh.
Di sinilah generasi muda sering merasa tertinggal.
BPS memang menyediakan data upah pekerja menurut provinsi dan lapangan usaha, tetapi kemampuan membeli rumah sangat berbeda tergantung pekerjaan dan tempat tinggal. Data upah 2025 kembali menunjukkan adanya variasi besar antarwilayah dan sektor ekonomi.
Sementara rumah di lokasi dengan kesempatan kerja terbaik sering menjadi sangat mahal.
Akibatnya, seseorang mungkin menerima kenaikan gaji setiap tahun tetapi masih merasa target rumah bergerak menjauh.
Gaji naik Rp500 ribu.
Harga rumah naik puluhan juta.
Tidak sulit memahami siapa yang merasa menang.
Masalah Pertama: Uang Muka
Ada orang yang sebenarnya mampu membayar cicilan rumah.
Masalahnya, dia belum punya DP.
Ini terdengar kontradiktif, tetapi sangat masuk akal.
Misalnya sebuah rumah seharga Rp700 juta.
Kalau seseorang ingin menyiapkan uang muka Rp140 juta, angka tersebut bukan sesuatu yang mudah dikumpulkan.
Dengan kemampuan menabung Rp3 juta setiap bulan, dibutuhkan hampir empat tahun untuk mencapai nominal tersebut.
Itu dengan asumsi tidak ada keadaan darurat.
Tidak ada laptop rusak.
Tidak ada keluarga sakit.
Tidak ada biaya pernikahan.
Tidak ada pengeluaran besar lainnya.
Dan harga rumah tidak berubah.
Realitas jarang sebaik spreadsheet.
Karena itulah uang muka menjadi salah satu tembok pertama bagi calon pembeli muda.
Setelah DP, Datang Cicilan
Berhasil mengumpulkan uang muka tidak berarti perjuangan selesai.
Sekarang datang komitmen belasan atau puluhan tahun.
Bank Indonesia mencatat bahwa pada awal 2026 sekitar 69,87% pembelian rumah di pasar primer dilakukan melalui skema KPR. Pada akhir 2025 porsinya bahkan sekitar 70,88%.
Artinya, bagi sebagian besar konsumen, rumah bukan sesuatu yang dibeli dengan uang tunai.
Rumah dibeli dengan pendapatan masa depan.
KPR pada dasarnya mengatakan:
“Kamu boleh menggunakan rumah ini sekarang. Tapi sebagian gajimu selama bertahun-tahun ke depan sudah punya tujuan.”
Bagi orang dengan pekerjaan stabil dan cash flow sehat, itu bisa menjadi strategi yang masuk akal.
Bagi pekerja muda dengan pendapatan fluktuatif, kontrak kerja pendek, atau tanggungan besar, cicilan jangka panjang bisa terasa menakutkan.
Gen Z Juga Memasuki Pasar Kerja yang Berbeda
Generasi orang tua banyak yang tumbuh dengan gambaran karier lebih linear.
Masuk perusahaan.
Bekerja lama.
Naik jabatan.
Pendapatan bertambah.
Pensiun.
Dunia kerja Gen Z jauh lebih cair.
Ada pekerja kontrak.
Freelancer.
Gig worker.
Remote worker.
Creator.
Pekerja startup.
Orang yang pindah perusahaan setiap beberapa tahun.
Sebagian menghasilkan uang besar.
Sebagian mempunyai penghasilan tidak stabil.
Fleksibilitas ini mempunyai keuntungan.
Tetapi membeli rumah membutuhkan sesuatu yang sangat tidak fleksibel: kemampuan membayar cicilan setiap bulan selama bertahun-tahun.
Bank melihat kestabilan.
KPR menyukai prediktabilitas.
Ekonomi modern justru semakin penuh ketidakpastian.
Di sinilah ada benturan.
Kota Besar Membuat Pilihan Semakin Aneh
Katakanlah pekerjaan seseorang berada di Jakarta.
Rumah dekat kantor terlalu mahal.
Maka ia mencari ke daerah penyangga.
Bekasi.
Depok.
Bogor.
Masih mahal?
Geser lagi.
Semakin jauh.
Rumah akhirnya ditemukan dengan harga lebih masuk akal.
Tetapi sekarang ada masalah lain.
Waktu perjalanan.
Biaya transportasi.
Tol.
Bensin atau charging.
Kereta.
Dan yang paling mahal: waktu hidup.
Rumah murah yang membutuhkan perjalanan empat jam pulang-pergi setiap hari tidak benar-benar “murah”.
Sebagian biaya hanya berubah bentuk.
Dari cicilan rumah menjadi biaya transportasi dan kehilangan waktu.
Inilah mengapa masalah perumahan modern tidak bisa dipisahkan dari transportasi publik dan perencanaan kota.
Lalu Gen Alpha Nanti Bagaimana?
Nah, di sinilah pembicaraan menjadi menarik.
Gen Alpha umumnya digunakan untuk menyebut generasi yang lahir setelah Gen Z, meskipun batas tahunnya berbeda tergantung definisi.
Sebagian besar dari mereka hari ini belum masuk pasar kerja.
Jadi kita belum bisa mengatakan bahwa Gen Alpha akan “pasti” lebih sulit membeli rumah.
Itu akan menjadi spekulasi.
Namun kita bisa melihat faktor apa yang akan menentukan masa depan mereka.
Kalau pasokan rumah terjangkau bertambah cepat, transportasi publik membaik, kota-kota baru berkembang, pendapatan riil meningkat, dan sistem pembiayaan membaik, Gen Alpha bisa saja menghadapi kondisi lebih baik.
Sebaliknya, jika tanah di pusat ekonomi semakin langka sementara kesempatan kerja tetap terkonsentrasi di wilayah yang sama, maka masalah affordability bisa semakin besar.
Jadi masa depan Gen Alpha belum ditentukan.
Tetapi keputusan yang dibuat sekarang ikut menentukan seberapa berat situasinya nanti.
Bayangkan Harga Rumah Tahun 2045
Mari bermain dengan matematika sederhana.
Ini bukan prediksi harga.
Hanya ilustrasi.
Sebuah rumah sekarang berharga Rp800 juta.
Kalau rata-rata harganya naik 3% per tahun selama 20 tahun, nilainya menjadi sekitar Rp1,44 miliar.
Kalau tumbuh 5% per tahun, nilainya menjadi sekitar Rp2,12 miliar.
Sekali lagi, ini bukan ramalan.
Harga properti tidak bergerak lurus seperti kalkulator.
Ada periode stagnasi.
Ada daerah yang naik cepat.
Ada daerah yang justru kehilangan daya tarik.
Namun ilustrasi tersebut menunjukkan satu hal penting.
Pertumbuhan kecil yang terjadi bertahun-tahun menghasilkan angka besar karena efek compounding.
Itulah dunia yang kemungkinan akan dimasuki Gen Alpha.
Mereka tidak hanya mewarisi rumah yang lebih mahal.
Mereka juga mungkin mewarisi kota yang lebih padat.
Tanah Tidak Bisa Ditambah Sesuka Hati
Smartphone bisa diproduksi jutaan unit.
Sepatu bisa diproduksi jutaan pasang.
Apartemen juga bisa dibangun vertikal.
Tetapi satu bidang tanah di pusat Jakarta tidak bisa diduplikasi.
Lokasi adalah salah satu alasan properti mempunyai karakter berbeda dari banyak barang lain.
Ketika jumlah orang yang ingin tinggal di suatu kawasan bertambah sementara tanah terbatas, harga memperoleh tekanan naik.
Kemudian pusat kota terlalu mahal.
Pembangunan bergerak ke pinggiran.
Pinggiran berkembang.
Harga di sana ikut naik.
Pembangunan bergerak lebih jauh.
Siklus terus berjalan.
Kalau transportasi publik tidak mengejar ekspansi tersebut, generasi berikutnya bisa saja memiliki rumah.
Tetapi rumahnya semakin jauh dari tempat mereka menjalani kehidupan.
Bisa Jadi Gen Alpha Tidak Mengejar Rumah Tapak
Ada kemungkinan konsep “punya rumah” sendiri berubah.
Generasi sebelumnya sering membayangkan rumah sebagai tanah sendiri dengan halaman dan pagar.
Gen Alpha mungkin tumbuh dengan gambaran berbeda.
Apartemen kecil dekat transportasi publik bisa terasa lebih rasional daripada rumah besar dua jam dari kantor.
Co-living bisa berkembang.
Hunian berbasis sewa jangka panjang bisa menjadi lebih normal.
Transit-oriented development bisa menjadi semakin penting.
Bahkan ukuran rumah bisa mengecil.
Kalau perubahan ini terjadi, bukan berarti generasi berikutnya gagal.
Mereka hanya mendefinisikan tempat tinggal secara berbeda.
Kesalahan terbesar mungkin justru memaksakan standar keberhasilan properti abad ke-20 kepada generasi yang hidup di kota abad ke-21.
Apakah Menyewa Berarti Gagal?
Ada kalimat yang sangat populer:
“Kalau ngontrak terus, uangnya hilang.”
Kalimat tersebut terdengar logis.
Tetapi belum lengkap.
Membeli rumah juga mempunyai biaya.
Ada bunga KPR.
Pajak.
Perawatan.
Renovasi.
Asuransi.
Biaya transaksi.
Dan opportunity cost dari uang muka.
Menyewa membeli fleksibilitas.
Membeli rumah membeli kepastian tempat tinggal sekaligus aset.
Mana yang lebih baik tergantung keadaan.
Kalau seseorang belum tahu akan bekerja di kota mana tiga tahun lagi, menyewa mungkin sangat masuk akal.
Kalau seseorang sudah yakin akan tinggal di satu wilayah selama belasan tahun dan mempunyai kemampuan finansial, membeli bisa menjadi keputusan bagus.
Tidak semua orang harus mengambil jalan yang sama.
Program Rumah Terjangkau Tetap Punya Peran Besar
Kabar baiknya, masalah perumahan tidak sepenuhnya diabaikan.
BPS mencatat capaian Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan atau FLPP pada 2025 mencapai 278.868 unit. Pada semester I 2026, realisasinya mencapai 91.531 unit.
FLPP dirancang untuk meningkatkan akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap pembiayaan perumahan.
Selain itu, statistik BPS menunjukkan akses terhadap rumah layak huni meningkat dari 68,40% pada 2025 menjadi 70,30% pada 2026.
Jadi ceritanya bukan semuanya memburuk.
Ada kemajuan.
Backlog kepemilikan rumah juga turun.
Tetapi pekerjaan rumahnya masih besar karena jutaan rumah tangga belum mempunyai rumah sendiri.
Problemnya Tidak Bisa Diselesaikan dengan “Nabung yang Rajin”
Nasihat finansial pribadi tetap penting.
Menabung penting.
Mengurangi utang konsumtif penting.
Menjaga skor kredit penting.
Membangun dana darurat penting.
Tetapi ketika berbicara mengenai perumahan jutaan orang, solusi tidak bisa berhenti pada personal finance.
Kita harus berbicara mengenai pasokan.
Zonasi.
Transportasi.
Kota baru.
Apartemen.
Rumah subsidi.
Pembiayaan.
Produktivitas.
Upah.
Dan pekerjaan.
Kalau jutaan anak muda bekerja di sebuah kota tetapi pembangunan rumah di dekat pusat pekerjaan sangat terbatas, nasihat “kurangi kopi” tidak akan menyelesaikan ketidakseimbangan tersebut.
Masalah struktural membutuhkan solusi struktural.
Gen Alpha Bisa Lebih Kaya, tapi Rumah Bisa Tetap Sulit
Ada skenario lain yang sering terlupakan.
Gen Alpha kemungkinan akan bekerja di ekonomi yang jauh berbeda.
AI semakin besar.
Otomasi meningkat.
Pekerjaan baru muncul.
Sebagian pekerjaan lama hilang.
Produktivitas bisa meningkat.
Pendapatan di beberapa sektor bisa jauh lebih tinggi.
Jadi bukan mustahil generasi berikutnya mempunyai daya beli lebih besar.
Tetapi pendapatan lebih tinggi tidak otomatis membuat rumah terjangkau.
Kalau semua orang berpenghasilan lebih tinggi tetapi jumlah tanah strategis tetap sama, harga tanah bisa ikut menyesuaikan.
Itulah sebabnya solusi jangka panjang tidak cukup hanya berharap generasi berikutnya mendapatkan gaji lebih besar.
Kota juga harus menciptakan lebih banyak pilihan hunian.
Warisan Orang Tua Bisa Semakin Menentukan
Ada satu sisi yang agak tidak nyaman dibicarakan.
Semakin mahal rumah, semakin besar peran kekayaan keluarga.
Dua orang bisa mempunyai gaji sama.
Orang pertama harus mengumpulkan DP sendiri.
Orang kedua mendapatkan tanah keluarga atau bantuan uang muka dari orang tua.
Secara penghasilan mereka sama.
Secara kemampuan membeli rumah, mereka hidup di dunia berbeda.
Kalau harga properti semakin jauh dari gaji, transfer kekayaan antargenerasi menjadi semakin penting.
Rumah orang tua bisa menjadi rumah anak.
Aset keluarga bisa menjadi DP.
Warisan menjadi faktor yang menentukan.
Risikonya adalah ketimpangan properti ikut diwariskan.
Anak dari keluarga yang sudah memiliki aset memulai lebih dekat ke garis finish.
Anak dari keluarga tanpa properti mulai dari nol.
Gen Alpha bisa merasakan fenomena ini lebih kuat kalau affordability tidak membaik.
Mungkin Pertanyaannya Bukan “Kapan Punya Rumah?”
Ada kemungkinan kita harus mengganti pertanyaannya.
Bukan:
“Umur berapa harus punya rumah?”
Tetapi:
“Model tempat tinggal apa yang membuat hidup tetap sehat secara finansial?”
Jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang.
Ada yang membeli rumah usia 27.
Ada yang baru usia 40.
Ada yang membeli apartemen.
Ada yang membangun rumah di tanah keluarga.
Ada yang menyewa sambil berinvestasi di aset lain.
Tidak ada medali untuk siapa yang paling cepat tanda tangan akad KPR.
Tujuan akhirnya bukan memegang sertifikat secepat mungkin.
Tujuannya mempunyai kehidupan yang stabil.
Gen Z Jangan Menyerah, tapi Juga Jangan FOMO
Ketika Gen Z sulit punya properti, sangat mudah jatuh ke dua ekstrem.
Ekstrem pertama adalah menyerah.
“Rumah sudah mustahil, buat apa nabung?”
Ekstrem kedua adalah panik.
“Harus beli sekarang sebelum tambah mahal.”
Keduanya berbahaya.
Data Bank Indonesia justru menunjukkan pertumbuhan harga properti primer saat ini relatif terbatas. Pada triwulan II 2026, pertumbuhan tahunan hanya 0,69%.
Artinya, tidak semua orang harus terburu-buru membeli rumah minggu depan.
Tetapi bukan berarti perencanaan boleh ditunda selamanya.
Yang jauh lebih masuk akal adalah mulai menghitung.
Bukan bermimpi dengan angka kosong.
Karena Rumah Masa Depan Tidak Harus Mengikuti Rumah Masa Lalu
Mungkin Gen Alpha nanti tidak tinggal di kompleks yang sama seperti kakek-neneknya.
Mungkin rumah mereka lebih kecil.
Lebih vertikal.
Lebih dekat stasiun.
Lebih pintar secara teknologi.
Lebih hemat energi.
Mungkin kepemilikan juga tidak selalu menjadi satu-satunya bentuk keamanan tempat tinggal.
Dan mungkin itu tidak masalah.
Setiap generasi menyesuaikan diri dengan kota dan ekonomi zamannya.
Yang menjadi masalah adalah ketika pilihan menyempit sampai orang tidak mampu membeli, tidak mampu menyewa dengan nyaman, dan harus tinggal semakin jauh dari pekerjaan.
Itu bukan lagi persoalan gaya hidup.
Itu persoalan kota.
Saat Gen Alpha Dewasa, Jawabannya Ditentukan dari Sekarang
Hari ini Gen Alpha mungkin masih sibuk sekolah.
Sebagian bahkan belum tahu apa itu KPR.
Tetapi dua puluh tahun dari sekarang, mereka akan membuka aplikasi properti seperti Gen Z hari ini.
Mereka mungkin melihat harga sebuah apartemen.
Menggeser layar.
Melihat simulasi cicilan.
Diam beberapa detik.
Lalu bertanya kepada AI pribadi mereka,
“Dengan gaji segini, realistis nggak beli rumah?”
Jawaban yang mereka dapat nanti tidak hanya ditentukan oleh seberapa rajin mereka bekerja.
Ia juga ditentukan oleh kota yang kita bangun hari ini.
Berapa banyak rumah yang tersedia.
Di mana pekerjaan berada.
Seberapa bagus transportasi publik.
Seberapa produktif ekonomi tumbuh.
Bagaimana sistem pembiayaan dirancang.
Dan apakah perumahan dianggap sekadar aset investasi atau juga kebutuhan dasar.
BPS menunjukkan ada perbaikan. Backlog kepemilikan turun menjadi sekitar 9,29 juta rumah tangga pada 2026 dan akses terhadap rumah layak huni naik menjadi 70,30%.
Itu kabar baik.
Tetapi jutaan rumah tangga masih belum punya rumah.
Jadi ketika kita bertanya, “Gen Z saja sulit punya properti, bagaimana Gen Alpha nanti?”
Jawabannya belum tentu lebih buruk.
Belum tentu juga lebih baik.
Masa depan itu masih bisa dibentuk.
Yang pasti, menyelesaikannya membutuhkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada meminta anak muda berhenti membeli kopi.
Karena sebuah rumah tidak dibangun dari rasa bersalah.
Ia dibangun dari tanah, pendapatan, kebijakan, infrastruktur, pembiayaan, dan kesempatan.
Dan mungkin di situlah pekerjaan sebenarnya baru dimulai.
Referensi
Badan Pusat Statistik, “BPS Rilis Perdana Statistik Perumahan 2026: Akses Rumah Layak Huni Meningkat.”
https://www.bps.go.id/id/news/2026/08/22/937/bps-rilis-perdana-statistik-perumahan-2026–akses-rumah-layak-huni-meningkat.html
Badan Pusat Statistik, “Statistik Perumahan 2026.”
https://www.bps.go.id/id/publication/2026/08/31/777a9ca5c6cfd2a1d8626198/statistik-perumahan-2026.html
Bank Indonesia, “Survei Harga Properti Residensial Triwulan II 2026: Harga Properti Residensial Meningkat Terbatas.”
https://www.bi.go.id/en/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2815226.aspx
Bank Indonesia, “Survei Harga Properti Residensial Triwulan I 2026: Harga Properti Residensial Tumbuh Terbatas.”
https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_289726.aspx
Bank Indonesia, “Survei Harga Properti Residensial Triwulan IV 2025: Harga Properti Residensial Tumbuh Terbatas.”
https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_283226.aspx
Badan Pusat Statistik, “Rata-Rata Upah/Gaji Bersih Sebulan Buruh/Karyawan/Pegawai menurut Provinsi dan Lapangan Usaha.”
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MjQ3NSMy/rata-rata-upah-gaji-bersih-sebulan-buruh-karyawan-pegawai-menurut-provinsi-dan-lapangan-pekerjaan-utama-di-17-sektor.html
Badan Pusat Statistik, “Indeks Harga Properti Perumahan 2025.”
https://www.bps.go.id/id/publication/2025/12/30/7f0654d2e93cbdf636093218/indeks-harga-properti-perumahan-2025.html
